Setiap tahun, masyarakat pesisir dihadapkan pada ancaman nyata: abrasi pantai. Tambak-tambak ikan yang menjadi sumber mata pencaharian terus tergerus oleh abrasi, dan jika dibiarkan, bukan hanya mata pencaharian yang hilang, tetapi seluruh kampung akan terpaksa pindah. Namun, di tengah keputusasaan ini, muncul sebuah keyakinan kuat: “Kalau alam memberikan kita yang terbaik, maka kita pun juga sebaliknya harus memberikan yang terbaik.” Inilah yang menjadi dasar dari hukum alam yang sesungguhnya bagi mereka.
Gerakan “GILA”: Gerakan Insan Lestarikan Alam
Untuk melakukan perlawanan besar ini, inisiator kegiatan harus mengajak seluruh kawan-kawan dan masyarakat kampung untuk bersatu. Mereka menyadari, kegiatan membentung abrasi ini tidak bisa dilakukan sendirian.
Pesan yang selalu ditekankan adalah, “menjadi gila itu baik.” Tentu saja, kata “GILA” di sini bukanlah gila dalam artian sesungguhnya, melainkan singkatan inspiratif: Gerakan Insan Lestarikan Alam. Filosofi ini menanamkan optimisme bahwa upaya pelestarian yang dianggap “tidak masuk akal” atau terlalu ambisius oleh banyak orang justru menjadi kunci.
Membangun Sabuk Hijau 1,8 KM dengan Penanaman Mangrove
Ketangguhan dan keyakinan adalah kunci. Hasil dari gerakan masif ini sungguh luar biasa. Hingga saat ini, mereka telah berhasil menanam lebih dari 3.350.000 (tiga juta tiga ratus lima puluh ribu) batang pohon mangrove!
Penanaman mangrove ini membentang sepanjang 1,8 km dan kini berfungsi sebagai sabuk hijau pelindung alami. Dampaknya langsung terasa: wilayah tambak yang sebelumnya hilang kini hampir semua bisa dimanfaatkan kembali untuk budidaya perikanan. Keberadaan jutaan pohon mangrove telah menstabilkan garis pantai, meredam ombak, dan mengembalikan ekosistem pesisir.
Kisah perjuangan masyarakat kampung ini membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat, bencana alam seperti abrasi pantai dapat diatasi, bahkan diubah menjadi peluang keberlanjutan. Mereka telah memberikan yang terbaik, dan kini alam pun membalasnya