Seorang periset dari luar negeri mengikuti ekowisata mangrove Brebes.

Ekowisata Mangrove Brebes: Kisah Sukses Pengelolaan Ekosistem Pesisir di Mangrove Sari untuk Kehidupan Berkelanjutan

Wilayah pesisir Brebes pernah menjadi berita utama karena bencana abrasi parah yang mengancam pemukiman dan mata pencaharian masyarakat. Namun, kini, daerah tersebut telah bertransformasi menjadi model Pengelolaan Ekosistem Pesisir yang diakui secara global, berkat inisiatif visioner dari Kelompok Masyarakat Pengawas Hutan Pesisir (KMPHP) Mangrove Sari.

KMPHP Mangrove Sari, yang secara resmi berdiri di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, sejak 1 April 2010 (dengan kegiatan konservasi dimulai sejak 2005), berhasil mengubah ancaman lingkungan menjadi peluang ekonomi berkelanjutan melalui pengembangan Ekowisata Mangrove Brebes.

Mengapa Mangrove Sari Berhasil? Solusi Berbasis Alam (Nature Based Solutions)

Keberhasilan Mangrove Sari terletak pada penerapan model Nature Based Solution (NBS). Model ini fokus pada perlindungan dan peningkatan kualitas ekosistem untuk mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, risiko bencana, dan ketahanan pangan.

Strategi yang dilakukan KMPHP Mangrove Sari mencakup empat pilar utama:

  1. Edukasi dan Kampanye: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang lingkungan dan perubahan iklim.
  2. Pengendalian DAS (Daerah Aliran Sungai): Rehabilitasi lingkungan dan pengawasan sumber daya alam, khususnya di bagian hilir muara Sungai Pemali.
  3. Pemberdayaan Masyarakat: Mengembangkan sumber daya manusia lokal untuk mengoptimalkan potensi daerah.
  4. Pengembangan Ekowisata: Menciptakan Nilai Ekonomi Sirkular dari jasa lingkungan hutan mangrove.

Dampak Nyata: Peningkatan Aset, Biodiversitas, dan Kesejahteraan

Aktivitas KMPHP Mangrove Sari telah menghasilkan dampak yang terukur, menjadikan wilayah ini percontohan pengelolaan ekosistem yang sukses yaitu:

  • Aspek Ekonomi dan Sosial: Memiliki aset senilai Rp 6.537.455.000, menyerap tenaga kerja sebanyak 250 orang, menciptakan 30 jenis usaha masyarakat, dan memiliki 70 mitra kerjasama.
  • Konservasi Hutan: Total penanaman 4.479.500 batang mangrove, luas kawasan 440 Ha dengan 26 jenis mangrove, dan menyimpan Karbon sebesar 335,23 Ton/Ha.
  • Biodiversitas: Habitat bagi 27 jenis burung dan 76 jenis ikan.
  • Edukasi dan Riset: Menjadi lokasi riset dengan 35 hasil riset oleh akademisi. Ekowisata Mangrove Sari telah dikunjungi oleh wisatawan dari 30 negara.

Ekowisata dan Produk Unggulan Lokal

Sebagai destinasi Ekowisata Mangrove Brebes, Mangrove Sari tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memberdayakan ekonomi lokal melalui produk-produk unggulan berbasis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Beberapa produk dan jasa andalan meliputi:

  • Batik Mangrove: Kain batik dengan pewarna alami yang bersumber dari ekosistem mangrove.
  • Olahan Pangan: Produk makanan olahan yang memanfaatkan hasil laut dan hutan.
  • Garam Rebus dan Bandeng Cabut Duri: Produk perikanan khas Brebes yang dikelola secara berkelanjutan.
  • Jasa Ekowisata: Termasuk wahana air dan fasilitas pendidikan lingkungan, yang menarik pengunjung lokal maupun internasional.

Kisah Mangrove Sari adalah bukti nyata bahwa upaya konservasi lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Dengan falsafah “Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengumpat dalam kegelapan,” Brebes kini memiliki warisan ekologis dan ekonomi yang berkelanjutan. Kunjungi Mangrove Sari untuk menyaksikan langsung model Pengelolaan Ekosistem Pesisir yang inspiratif ini.

Scroll to Top