Dari Tambak Terpuruk Menuju Desa Wisata Inspiratif: Kisah Kebangkitan Dewi Mangrove Sari Brebes

Desa Wisata Mangrove Dukuh Pandansari, atau yang akrab disebut Dewi Mangrove Sari, di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, adalah contoh nyata dari kekuatan masyarakat lokal dalam mengubah musibah menjadi berkah. Berawal dari krisis lingkungan dan ekonomi akibat alih fungsi lahan masif, kini kawasan ini telah bertransformasi menjadi desa wisata yang mengintegrasikan atraksi alam, akomodasi, dan tradisi lokal.
Masa Keemasan yang Berujung Bencana Ekologis
Desa Kaliwlingi, dengan luas 1.627 Ha yang didominasi oleh tanah tambak (780 Ha), pernah menggantungkan hidup pada budidaya udang windu. Khususnya di Dukuh Pandansari, yang berbatasan langsung dengan laut utara Jawa, ekonomi masyarakat berfokus pada budidaya ini sejak tahun 1982. Daya tarik ekonomi udang windu, yang pasarnya hingga ke Jepang dan Tiongkok, mendorong pembabatan besar-besaran hutan mangrove seluas 1.100 Ha yang dialihfungsikan menjadi 400 Ha petak tambak.
Namun, era keemasan ini tidak berlangsung lama. Antara tahun 1985 hingga 1995, produksi udang windu mulai merosot. Penggunaan pupuk urea berlebihan dan bahan kimia tak sesuai dosis demi meningkatkan produktivitas justru merusak kualitas perairan. Udang yang dihasilkan terkontaminasi, membuatnya tidak layak ekspor.
Krisis ini diperparah oleh infrastruktur desa yang sangat tertinggal. Jalan berbatu, ketiadaan listrik di Dukuh Pandansari (mengandalkan genset), dan akses yang lumpuh saat musim hujan membuat pengembangan ekonomi terhambat dan aktivitas masyarakat, termasuk sekolah, terganggu.
Tekanan Alam dan Sosial: Dampak Alih Fungsi Lahan
Kemunduran budidaya udang windu memicu domino masalah. Masyarakat kehilangan modal dan meninggalkan tambak, yang kemudian menghadapi ancaman baru: abrasi. Fungsi utama mangrove sebagai penahan abrasi hilang akibat pembukaan lahan. Sejak 1963 hingga 2009, abrasi telah menghilangkan 812 Ha tanah.
Abrasi yang cepat dan tidak tertanggulangi menyebabkan air rob (pasang) naik ke pemukiman warga, terutama pada musim angin barat dan timur (Februari-Agustus). Tekanan alam ini merusak rumah dan barang-barang, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan menyebabkan masyarakat tidak dapat melakukan kegiatan normal.
Dampak sosialnya juga parah. Anak-anak terpaksa putus sekolah setelah lulus SD dan didorong untuk bekerja di laut demi ekonomi keluarga. Ketergantungan pada sektor nelayan tangkap semakin meningkat, sementara petani (bawang, padi, cabai) tidak bisa bercocok tanam karena sawah mereka menjadi asin akibat intrusi air laut. Sumber daya manusia (SDM) di Pandansari pun terancam hanya memiliki keahlian mencari ikan tanpa wawasan yang luas.
Titik Balik: Reboisasi dan KMPHP Mangrove Sari
Di tengah kondisi terpuruk, masyarakat Dukuh Pandansari bangkit. Isu pemanasan global pada tahun 2005 menjadi pemicu kesadaran lingkungan. Lahirlah Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan Pesisir (KMPHP) Mangrove Sari.
Melalui swadaya, KMPHP memulai reboisasi, menanam 15.000 batang Rhizophora Mucronata seluas 1 Ha. Kegiatan penyadaran dilakukan melalui kampanye, seni budaya, dan media cetak. Seiring waktu, KMPHP berkembang pesat, fokus pada mitigasi bencana, adaptasi perubahan iklim, dan mencetak kader lingkungan.
Dukungan mengalir deras dari berbagai NGO seperti KEHATI, IPPHTI (yang mengenalkan penanaman padi tahan air asin), dan lembaga akademik (UNDIP, UGM, dll.), serta pemerintah.
Perjuangan KMPHP mulai membuahkan hasil. Mereka meraih berbagai penghargaan, termasuk Juara III Kelompok Tani Hutan (2012) dan puncaknya adalah Kalpataru 2015 (Penyelamat Lingkungan) dan Kalpataru 2016 (Pengabdi Lingkungan Juara 1 Nasional) yang diterima oleh tokoh penggerak, Mashadi. Penghargaan ini menjadi simbol modal utama masyarakat: keikhlasan, gotong royong, dan kerja keras.
Lahirnya Dewi Mangrove Sari
Tahun 2016 menjadi titik balik perjuangan yang menemukan nilai ekonomi. Penanaman masif berhasil membentuk kembali hutan mangrove seluas 280 Ha. Berdasarkan kajian mahasiswa UNDIP, 15 Ha hutan ini layak dijadikan destinasi wisata.
Pada 30 April 2016, Desa Wisata Mangrove Sari (Dewi Mangrove Sari) resmi diluncurkan. Dengan bantuan dana dari Dinas Pariwisata Brebes dan DKP, dibangunlah tracking mangrove sepanjang 720 meter, menara pandang, musala, dan gazebo.
Di bawah pengelolaan Pokdarwis Dewi Mangrovesari, desa wisata ini mengalami pendewasaan. Mereka tidak hanya menawarkan Eduwisata Tracking Mangrove, tetapi juga mengembangkan berbagai produk dan atraksi berbasis masyarakat lokal, seperti:
- Penyediaan akomodasi homestay (15 orang).
- Pusat kuliner dan oleh-oleh (30 warung).
- Atraksi aktivitas masyarakat (garam rebus, batik pewarna alami, budidaya kepiting soka, bandeng cabut duri, pembuatan rengginang udang).
Dalam perkembangannya (2016-2020), Dewi Mangrovesari berhasil menyerap 50 tenaga kerja lokal, memberikan dampak ekonomi yang signifikan dan menyeluruh bagi masyarakat Dukuh Pandansari.
Kisah Desa Kaliwlingi Dukuh Pandansari adalah manifestasi dari kekuatan gotong royong masyarakat untuk keluar dari keterpurukan. Mereka berhasil mengubah bencana abrasi menjadi berkah. Konsistensi dalam menjaga ekosistem mangrove kini tidak hanya menekan laju abrasi, tetapi juga menjadi fondasi bagi kesejahteraan dan keberlangsungan hidup masyarakat lokal.